Jumat, 01 Juli 2011

a journey to virgin island, karimunjawa (part1)

Akhir pekan lalu, tanggal 25 juni 2011, saya diajak beberapa teman saya berlibur ke sebuah pulau eksotik di utara pulau jawa,yaitu karimunjawa. kita melakukan perjalanan darat menuju kota Jepara. berangkat dari Jogjakarta sekitar pukul 1 malam, singgah di Magelang untuk mengisi perut dan kemudian melanjutkan lagi perjalanan ke Jepara.
Kita tiba di pelabuhan Kartini Jepara pukul 5 pagi, sembari menunggu loket penjualan tiket kapal buka, kita sarapan di warung sekitar parkiran.warung yang paling recommended adalah warung pojok, jualannya komplit, dari nasi rames sampai nasi rendang, tapi harganya lumayan mahal.
pukul 06.00 loket pelabuhan mulai dibuka, sayapun mengantri bersama pengunjung lain.
dan tak lama, saya mendapatkan 5 buah tiket KMP Muria seharga 28.500 rupiah untuk satu orang
setelah mendapat tiket, kita langsung naik ke atas kapal, untuk mencari tempat duduk, soalnya kalau sampai tidak dapat tempat duduk, bisa dibayangkan, 6 jam perjalanan di atas laut tanpa tempat duduk??
setelah menaruh barang barang kitadi atas kapal, sambil menunggu kapal berangkat, kita mengambil foto diri di geladak kapal. pemandangan cukup bagus bisa dilihat dari sini.



Kapal KMP. Muria pun berangkat menuju Karimunjawa, Perjalanan yang di tempuh sekitar 6 jam jika air tenang dan 7 jam jika ombak besar. waktu paling baik untuk mengunjungi karimunjawa adalah bulan ke 3-4, hampir tidak ada ombak.  Kapal Ferry ini berangkat 3 kali dalam satu minggu dari Jepara. artinya 3 kali juga dalam seminggu dari Karimun. Namun ada  juga kapal cepat yaitu Kapal Cepat "KARTINI" dengan waktu tempuh 2 jam menuju Karimun dengan starting point di pelabuhan Semarang. dan tarifnya sekitar 100 ribuan perorang. jadwal kapal cepat ini menurut informasi hanya sekitar 2 kali dalam sebulan.itupun kita harus booking tiket jauh jauh hari sebelumnya, sebagai pandangan, di bulan juli ini tiket kapal cepat sudah habis dibooking sampai bulan oktober.. bayangkan!!
 setelah 6 jam perjalanan, akhirnya KMP Muria berlabuh di pelabuhan Karimunjawa pukul 14.00. sampai sana, sudah banyak tour agent menjemput tamu tamunya. sedangkan kita, tanpa tour agent, harus mencari sendiri kendaraan menuju homestay. biaya naik omprengan dari pelabuhan sampai kota karimun hanya 5000 per orang
 sesampai di kota karimun, kita mencari homestay, dimana sebagian rumah penduduk disana dijadikan homestay dengan tarif rata-rata sekitar 60.000 per kamar. kami pun menemukan sebuah rumah penduduk yang dijadikan homestay, sebuah rumah sederhana dengan 2 kamar, dan kita pun menyewanya dengan tarif 120 ribu per hari.
Setelah sejenak beristirahat, kami menghabiskan waktu sore hari di karimunjawa dengan berjalan2 di kota, mencari kudapan, dan menikmati sunset di dermaga kota.
Karena kita tidak ikut tour agent, maka kita harus mencari sendiri tentang segalanya di pulau ini, Malam harinya, kita berbincang dengan pemandu lokal berpengalaman, diskusi tentang tour esok harinya, bagaimana menyewa kamera, menyewa kapal, info2 tentang pulau sekitar dan juga fitting alat snorkling.
Setelah selesai fitting alat snorkling dan menentukan jadwal tour, kita pun mencari makan malam di alun alun kota jepara, ternyata disana tidak seperti yang saya kira. bayangan saya di pulau seperti itu bakalan banyak warung-warung pinggir pantai yang menjajakan ikan bakar dan semacamnya, ternyata tidak! penjaja makanan memang sengaja dikumpulkan di alun-alun dan diberi penerangan lampu sekitar 1000watt, dan disanalah kita menghabiskan malam dan tak sabar menunggu hari esok untuk mengeksplorasi pulau pulau di kepulauan karimunjawa.....

Sabtu, 25 Juni 2011

Laskar dagelan; from republik jogja with love

Hari selasa, 14 juni 2011 lalu, aku di telpon salah seorang temanku diajakin nonton sebuah pementasan lawak, yang berjudul LASKAR DAGELAN. dilihat dari judul dan pemainnya, cukup menarik. tanpa basa basi kita langsung menuju TKP, yaitu Taman Budaya Yogyakarta.ternyata disana ada acara PASAR KANGEN, nah Laskar Dagelan tadi merupakan salah satu rangkaian acaranya. sampai sana, ternyata kita kehabisan tiket, dan terpaksa beli untuk hari berikutnya,, Rabu 15 Juni 2011.
Hari berikutnya kita datang tepat waktu, jam 20.00 WIB. acaranya dimulai sekitar 20.15, molor dikit, biasa indonesia. dibuka dengan munculnya Butet Kertarajasa dengan busana jawa ala Yogyakarta mengucapkan selamat datang pada penonton. ternyata Butet tidak ikut main, ia hanya membuka dan menutup pertunjukan.
ada sejumlah nama beken lainnya di pementasan tersebut. sebut saja Djadug Ferianto. selebihnya di atas panggung, pertunjukan itu benar benar milik anak muda.memang sih ada Susilo Nugroho,Marwoto, Yu beruk yang notabene sangat senior.tapi mereka bisa membaur dengan komedian muda lainnya.












Bintang tamu pada pertunjukan itu adalah seorang Slamet Rahardjo. dan di hadapan Susilo dan kawan kawan, Slamet Rahardjo habis dikrecohi, sampai mati gaya, dan nyaris tak bisa 'berakting'.Semua itu memang ada skenarionya, tapi di sebuah lawakan jawa, spontanitasnya tak terbatas. Dan memang itulah yang diinginkan penonton: plesetan dan celetukan sembrono dan seenaknya. bayangkan saja seorang Slamet Rahardjo dikatain oleh Susilo " moso jeneng koyo jeneng bis" hahaha. Begitulah seni humor jawa, meledek apa saja. bahkan akting teman sendiri di atas panggung bisa menjadi bahan ledekan.
Barangkali bagi anda yang sudah akrab dengan dunia lawak jawa, semua lelucon yang ada di Laskar Dagelan itu tidak ada yang baru, tapi siapa sih yang ingin melihat lawakan baru? apakah lawakan baru itu? Yang suka main pukul? yang suka menghancurkan properti seperti yang lagi ngetren di tivi? TIDAK..!! penonton malam itu hanya ingin menyaksikan guyon-guyon lawas yang sudah lama tak mereka dengar, dan mereka rindukan.
Lawakan trio Gareng-Joned-Wisben malam itu adalah lawakan jadul yang sering kita saksikan di ketoprak, tapi memang itulah yang penonton tunggu.
 Babak pertama dibuka dengan sebuah pagi di jalan malioboro, seorang abdi dalem kraton dengan ontelnya, dan penjual gudeg menggelar dagangannya. Pidato presiden SBY tentang polemin keistimewaan Jogjakarta menjadi pembuka cerita.
Babak kedua lebih dahsyat, Showimah (nama seorang gadis ayu) dalam balutan gaun merah menerawang menyanyikan "lingsir wengi".yang kemudian dikocok dengan irama hip hop jawa ala Jogja Hip-Hop Foundation. ini benar benar seperti pertunjukan 'musikal'. Pujian khusus perlu kita berikan pada Kill The DJ, pentolan Jogja Hip-Hop foundation untuk musiknya yang unik, hip-hop berlirik jawa ritmis.

Laskar Dagelan pada dasarnya merupakan respon atas diusiknya status keistimewaan Jogja.Sekali lagi, walaupun labelnya "plesetan" tapi pertunjukan ini dikemas rapi, bagus dan penuh tawa. Intinya, inilah cara rakyat jogja 'marah' dan dengan 'marah' saja mereka bisa membuat ratusan orang tertawa 2 jam tanpa henti.
JOGJA MEMANG ISTIMEWA.....